
Raja-Raja dan Rakyat Bersumpah: “Jika Dapur Kami Dirampas, Kami Siap Mati!”
Rokan Hulu, Riau – Suasana mencekam menyelimuti Desa Tambusai Timur, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, di tengah konflik agraria yang kian memanas. Di tengah kondisi kesehatan yang menurun, tokoh masyarakat sekaligus praktisi hukum, H. Porkot Hasibuan, SH, MH, tetap memaksakan diri hadir dan berdiri di garis depan untuk membela hak masyarakat Desa Lubuk Soting dan Desa Tingko.
Meski tampak lemah, langkahnya tetap mantap. Tubuhnya terlihat tidak sekuat biasanya, namun tekadnya berdiri kokoh di hadapan ratusan warga yang berkumpul. Kehadirannya sontak menggetarkan massa. Warga terdiam sejenak menyaksikan seorang tokoh yang sedang sakit, namun tetap memilih berdiri bersama rakyatnya.
Dengan suara berat dan penuh emosi, H. Porkot Hasibuan menyampaikan seruan kepada pemerintah pusat agar turun tangan menyelesaikan konflik yang dinilai mengancam kehidupan masyarakat.
“Saya mungkin sedang tidak sehat. Tapi saya tidak bisa diam ketika rakyat saya terancam kehilangan kehidupannya. Tanah ini adalah dapur masyarakat. Tanah ini adalah masa depan anak-anak kami. Kami mohon kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tarik PT Akrinas dari tanah kami. Jangan biarkan rakyatmu menderita,” ujarnya dengan suara bergetar.
Di belakangnya, ratusan warga berdiri dengan wajah tegang. Mereka tak sekadar menyaksikan seorang tokoh, tetapi melihat simbol perlawanan rakyat kecil yang enggan menyerah pada tekanan.
Teriakan penolakan menggema di tengah kerumunan massa:
“Tolak PT Akrinas!”
“Jika dapur kami dirampas, kami siap mati!”
“Kami lapar! Jangan rampas kehidupan kami!”
Tokoh adat Tambusai Timur, Roganda Hasibuan, menegaskan bahwa perjuangan masyarakat bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan upaya mempertahankan hak hidup.
> “Kami tidak melawan negara. Kami hanya mempertahankan hidup kami. Kami sudah hidup sejak 1980 di lahan ini bersama PT Torus Ganda. Jangan rampas hak kami. Jangan jadikan kami korban di tanah kami sendiri,” tegas Roganda.
Warga Desa Lubuk Soting dan Desa Tingko kini hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Lahan yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan mereka terancam lepas akibat konflik agraria yang belum menemukan kejelasan penyelesaian.
Namun satu hal yang tak terbantahkan, kehadiran H. Porkot Hasibuan yang tetap berdiri meski dalam kondisi sakit telah membakar semangat perlawanan masyarakat.
Hari ini, Tambusai Timur bukan sekadar sebuah desa. Ia menjelma menjadi simbol jeritan rakyat kecil yang memilih berdiri, meski di tengah rasa sakit, demi mempertahankan tanah, dapur, dan masa depan anak-anak mereka.















